Diposkan pada FREELANCE, FRIENDSHIP, MISTERY, PSYCHOLOGY, TEEN, VIGNETTE

[Xiumin’s Birthday] ONE OF THESE NIGHTS VER. 1

irish-one-of-these-nights

EXO Birhtday Project

Xiumin’s Story

One of These Nights Ver. 1

With EXO’s Kim Minseok and Red Velvet’s Kang Seulgi

Supported by no one on this version

A psychology, mystery, slight!friendship story rated by T in vignette length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2016 IRISH Art&Story All Rights Reserved


Let’s meet again, one of these nights.”


██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Previous Birthday Series

Lay’s Project – Dumb Dumb Ver.1 // Ver. 2 // Ver. 3 // Ver. 4 || Wu Yifan’s Project – Like A Fool Ver. 1 // Ver. 2 // Ver. 3 || Chanyeol’s Project – Dream Candy Ver. 1 // Ver. 2 // Ver. 3 || D.O.’s Project – Sing For You Ver. 1 // Ver. 2 // Ver. 3 || Kai’s Project – For You Ver. 1 // Ver. 2 // Ver. 3

.

.

.

KIM MINSEOK VER.

Sebuah ingatan menari dalam benakku, tentang masa kecil, dimana aku masih memiliki makna dari kata ‘keluarga’ meski tak sepenuhnya kumiliki. Tumbuh di sebuah panti asuhan, aku, dan adikku—Kyungmi—bertemu dengan dua orang yang memiliki tragedi sama dengan kami.

Tidak diinginkan.

Do Kyungsoo, seorang anak berusia delapan tahun yang kala itu selalu jadi penyendiri, membangun benteng tinggi yang membatasi antara dirinya dan orang-orang yang berusaha mendekatinya. Kuketahui bahwa ia menjadi saksi hidup atas pembantaian kedua orang tuanya.

Meski sulit, meski penuh dengan penolakan, Tuhan pada akhirnya memberi Kyungsoo jalan yang lain, yang lebih baik. Aku bukannya membanggakan diriku sebagai seorang yang begitu berharga, tapi kenyataannya, kehidupan Kyungsoo membaik setelah bertemu denganku dan juga Kyungmi.

Empat bulan berselang setelah kedekatan kami bertiga, datanglah Kim Jongin, yang kala itu masih berusia tujuh tahun. Satu hal yang kutangkap begitu aku melihat Jongin, ia menakutkan.

Bagaimana tidak, ia adalah seorang korban penculikan massal—dimana saat itu semua korbannya adalah anak-anak dan organ mereka di ambil untuk dijual ke luar negeri—dan Jongin adalah satu-satunya yang selamat.

Masih teringat begitu jelas dalam benakku, bagaimana Jongin saat itu, begitu liar, menyerang siapa saja yang berusaha menyentuhnya, dan yang jelas, ia terlihat sakit.

Aku tak tahu pengalaman semengerikan apa yang mungkin ia dapatkan saat ia diculik, atau apa tak ada seorang pun yang berusaha mencarinya saat ia hilang, tapi ia membenci semua orang dewasa. Termasuk ibu panti kami.

Tapi ia begitu tertarik pada semua anak-anak perempuan. Bukannya hal aneh memang, tapi ketertarikan Jongin begitu adiktif dan obsesif. Karena kontak beberapa kali secara tidak sengaja dengan Kyungmi, ia mengekor adikku kemanapun.

Mungkin itu juga yang membuat Jongin jadi sedikit bisa bersosialisasi, karena kebanyakan anak-anak di panti adalah anak perempuan.

Meskipun hubungan Jongin dan Kyungsoo benar-benar kacau, tapi setidaknya Kyungmi selalu menjadi penengah di antara mereka.

Kami memang sangat akrab, layaknya saudara. Sekali dua kali memang ada pertikaian, tapi pertikaian diantara kami lenyap, saat seorang anak perempuan kembali menjadi bagian keluarga kami, menjadi pelengkap persahabatan kami.

Ia bukan korban penculikan, atau saksi hidup pembunuhan orang tuanya, bukan juga seorang anak yang tidak diinginkan. Ia juga bukan seorang penyendiri seperti Kyungsoo dan Jongin, tidak juga ceria dan mudah bergaul seperti Kyungmi.

Dia adalah seorang anak perempuan yang berhasil membuat sebersit rasa takut muncul dalam diriku ketika pertama kali melihatnya.

Karena ia selalu tersenyum, pada semua orang. Dan senyumnya, bukanlah sebuah senyum yang terlihat menyenangkan, tapi terlihat menakutkan.

Namanya adalah Kang Seulgi.

Dan ia dipindahkan ke panti asuhan kami setelah menjalani rehabilitasi selama enam bulan di dalam rumah sakit jiwa karena ia adalah seorang anak seusiaan Jongin yang sudah memotong tubuh kedua orang tuanya dan membiarkan mereka membusuk di dalam rumah.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

KANG SEULGI VER.

Minseok datang lagi hari ini ke panti asuhan. Seperti biasanya, ia selalu berdiam di taman belakang yang selalu jadi tempatnya bernostalgia.

Mengenang masa kecil kami, agaknya. Aku juga tak begitu tahu.

“Hey,” kutepuk pelan bahu Minseok saat ia tak kunjung sadar dari lamunannya, entah apa yang ia pikirkan sampai ia bisa menatap ke satu arah dengan begitu serius selama hampir tiga puluh menit.

“Oh, Seulgi-ah.” Minseok lekas menggeser duduknya, memberi celah kecil bagiku untuk duduk di sebelahnya, seolah mengajakku mengenang masa lalu seperti yang ia lakukan.

“Apa ada masalah lagi di kepolisian?” tanyaku berusaha membuka konversasi.

Minseok punya kebiasaan seperti ini saat ia rindu pada adiknya, pada kami, atau jika ia ada masalah.

“Tidak…” jawabnya pelan, menggeleng, melempar pandang pada beberapa kue kering yang ada di piring yang kupangku.

Dahi Minseok tampak berkerut, meneliti kue-kue kering buatanku.

“Ayolah, Minseok-ah. Memangnya kau pikir aku akan menaruh racun tikus di kue ini?” tanyaku, tahu bahwa Minseok sebenarnya masih merasa was-was padaku.

Aku ingin tergelak, Minseok memang satu-satunya yang berusaha dekat denganku saat aku datang ke panti asuhan, tapi ia juga yang paling menunjukkan sikap waspada terhadapku.

Sebenarnya wajar saja, aku adalah seorang pembunuh. Walau aku sudah tak ingat dengan jelas bagaimana aku melakukannya dulu, tapi tetap saja… aku dulu pernah membunuh seseorang. Yang artinya, aku seorang pembunuh.

“Tidak, Seulgi-ah. Aku tidak waspada tentang hal itu.” jemari Minseok bergerak meraih sepotong kue, memakannya dalam satu gigitan untuk kemudian kembali bicara, “aku tidak tahu kau bisa membuat kue kering sekarang.”

Aku tertawa pelan, membuat Minseok memandangku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.

“Kenapa? Apa kata-kataku lucu?” tanyanya segera kujawab dengan gelengan dan senyum kecil.

“Tidak, sama sekali tidak salah. Aku memang baru belajar membuat kue. Jadi, kau adalah orang pertama yang mencicipi kue buatanku.” ujarku mengulum senyum.

Minseok menyernyit.

“Tapi rasanya sangat enak, Seulgi-ah.”

“Benarkah?” segera aku meraih kue lain, mengiggitnya dan mengangguk-angguk, menyetujui argumen Minseok.

“Kurasa rasanya memang tidak buruk.”

Minseok lagi-lagi menatapku—dengan tatapan yang tak bisa kumengerti, membuatku bertanya-tanya.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanyaku penasaran.

“Tidak…” ia menggeleng, “kau masih tidak berubah, Seulgi-ah. Selalu tersenyum. Bahkan sejak kita sama-sama kecil, kau selalu tersenyum.”

Ucapan Minseok membuatku tersenyum tanpa sadar.

“Memangnya kenapa? Apa senyum ini membuatmu takut, seperti dulu? Saat kau berjengit menjauh dariku karena aku tersenyum?” tuntutku membuat Minseok mengalihkan pandangan.

Ia tak memungkiri fakta bahwa dulu ia menganggapku menakutkan.

“Maaf, dulu kita sama-sama kecil dan aku sangat bodoh hingga—”

“Tidak apa-apa. Nyatanya aku memang semengerikan itu bukan?” potongku halus, menyunggingkan sebuah senyum untuk menenangkan Minseok, memberinya kepercayaan bahwa ia tidak salah dengan sikapnya dulu.

“Sungguh, aku minta maaf. Kau tahu, selain kau, aku tak lagi punya siapa-siapa di dunia ini, Seulgi-ah.”

Aku menghela nafas panjang. Ingatan tentang masa kecil kami kembali berputar, membuat senyum lagi-lagi muncul tanpa bisa kukendalikan. Kenangan masa kecilku begitu indah sejak aku pindah ke tempat ini.

“Jangan bicara begitu. Meski Kyungmi sudah tiada, kita masih punya Kyungsoo, dan Jong—”

“Jongin sudah tiada.” Minseok kini memotongku, membuatku terkejut bukan kepalang karena ucapannya.

“Apa?”

“Jongin sudah tidak ada di dunia ini, Seulgi-ah.”

Aku terperangah.

“Mana mungkin? Beberapa minggu lalu kau bilang ia—”

“Ia memang jadi salah satu tersangka dalam profil yang kubuat. Tapi ia sekarang sudah mati, Seulgi-ah.”

Aku menarik dan menghembuskan nafas panjang, berusaha mencerna penuturan Minseok barusan.

“Dan siapa yang sudah—tunggu, jangan katakan…” aku menghentikan kalimatku, menatap Minseok tak percaya.

Tidak mungkin.

“Tidak mungkin dia kan?” ujarku membuat Minseok tertunduk, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

“Kau tahu fakta yang sebenarnya, Seulgi-ah? Diantara kita berlima, kau bukanlah monster yang harus kutakuti. Tapi mereka. Karena kejadian malam itu… mereka berubah menjadi monster yang sesungguhnya.”

Aku terdiam. Rasa sesak diam-diam melingkupi dadaku, menusuk begitu dalam hingga menciptakan rasa ngilu yang menyakitkan.

Meski sakit, aku masih berusaha tersenyum. Karena aku tahu bagaimana kacaunya perasaan Minseok sekarang, aku tahu ia yang paling terluka meski ia terlihat sekuat batu karang.

“Ini semua salahku. Seharusnya aku tak mengenalkan Kyungmi pada mereka semua. Seharusnya aku hidup diam di sudut panti ini sampai kematian Kyungmi karena sakit yang ia derita.”

Aku lekas menggenggam tangan Minseok, membuat ia melepaskan kepalan tangannya yang sedari tadi ia jadikan pelampiasan emosi.

“Jangan katakan ini semua salahmu lagi, Minseok-ah. Keadaan yang sudah merubah mereka. Jalan seperti ini yang sudah mereka pilih. Seperti aku yang tak ingin tumbuh dengan label pembunuh, mungkin… mereka malah ingin hidup dengan label itu.”

Minseok menatapku, jemarinya bergerak menyentuh sudut bibirku sementara tatapannya menerawang.

“Senyummu ini… apa akan tetap ada meski kau tahu semua sahabatmu berubah menjadi monster, Seulgi-ah?”

FIN.

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

HAPPY BIRTHDAY KAKAK UMIN. SELAMAT BERTAMBAH TUA. SELAMAT BER-WGM RIA /SEMACEM DOA BIAR UMIN WGM/ ALL MY LOVE FOR YOU EH MY WISH DENG.

EHEM.

Akhirnya setelah Januari menganiaya Kyungsoo-Jongin, aku bisa kembali dengan membawa series spesial Xiumin yang semalem sudah kupromosikan lewat Sleep Tight Oh Sehun Ver. 2 yang membuat galau (galau apaan orang Sehun direbus).

BTW, aku gatau ini aku yang berbakat nujum alias ngeramal, atau emang takdir aja, tapi entah kenapa seringkali aku ngebuat sesuatu itu sama dengan kejadian yang ada.

Contohnya saat dulu Chanyeol ku pairing sama Jinsol, eh itu pas APRIL lagi kambek, padahal kan fanfiksi aku selesai duluan, okelah, bisa kusebut kebetulan. Kemudian saat Kyungsoo-Jongin sama member Lopelis juga pas Lopelis sama Eksoh kambek, kan kampret. Eh bersyukur sih, karena judulnya jadi berubah dari ekspektasi awal aku (awalnya mau pake judul Ah-Choo! Sama Circle tapi jadi berubah ‘Sing For You’ sama ‘For You’ yang lagi-lagi KEBETULAN judulnya mirip!).

Belum lagi ya, itu kan Sing For You sama For You (yang aslinya judulnya Ah-Choo! Sama Circle) ini udah selesai pas jaman ngetik fanfiksi Birthday Series nya Chanyeol kan, ITU ADEGAN JIYEON DIBUNUH KAI PAKE SIANIDA UDAH DARI DESEMBER, TETIBA AJA BENERAN ADA PEMBUNUHAN HEBOH PAKE SIANIDA.

INI KAMPRET CHAPTER 2 KAN-KAN-KAN? KENAPA HARUS SIANIDA-DA-DA? /INI PAKE EFEK ECHO ALA FILM-FILM YA/

Kemudian saat mendekati ultah Umin, fanfiksi ini (awalnya judulnya adalah Red Dress karena mengambil judul yang sama di album Dumb Dumb—kan Umin dari awal bikin Birthday Series ini sudah niat banget kupair sama Seulgi! Ga percaya? Liat aja di For You itu ada Seulgi kumention namanya) sempat hampir kuhapus, karena Xiumin nyanyi featuring sama Jimin AOA. KAN KAMPRET CHAPTER 3 NAMANYA.

Tapi ditengah kegalauanku (antara mau ganti cast jadi Umin-Jimin atau stay dengan Red Dress yang merupaka versi awal dari One of These Nights) TIBA-TIBA AJA RED VELVET KAMBEK.

KAMPRET CHAPTER 4 BANGET KAN-KAN-KAN? TAPI AKU BERSYUKUR SAMA TUHAN YANG MAHA ESA, KARENA TELAH MEMBERIKAN JALAN YANG TERANG BENDERANG BAGIKU DAN FANFIKSIKU. #THANKSTOLORD #THANKSTOSMTOWN #THANKSTOREDVELVET #THANKSTOMYBRAIN

Dan itu artinya, aku beneran bisa nujum! Buktinya aja aku gaperlu ganti cast tau-tau tetiba Red Velvet kambek, KAMPRET (kampret chapter lima) SEKALI. Untungnya, oh untungnya, aku cuma perlu ngerombak dikit-dikit doang di versi Red Dress biar nyambung sama judul One of These Nights dan quotesnya.

BERARTI AKU BENERAN BISA NUJUM HAHAHA.

Pokoknya, intinya, aku bercuap-cuap ini cuma mau pamer kalo aku itu bisa nujum! WKWKWKWK (GAJELAS BANGET RISH)

Anyway, gak akan ada adegan ‘terlalu thriller’ di series ini, karena Xiumin itu biasnya kakak kesayangan aku—senggol seorang author yang ultimate bias nya di EXO adalah kakak Umin—yang nanti bakal kumention dikit di versi selanjutnya—jadi aku gatega buat menyakiti kakak Umin dengan cara direbus, digoreng, dipanggang, atau dikuliti-ti-ti… /EFEK ECHO YA/

See ya on the next version, guys!

P.S: ya Lord, baru sadar loh kalo cuap-cuapku panjang sekali T.T miane. Jangan dibaca cuap-cuapnya, di close tab aja T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s